Senin, 21 february 2011
OBJEK WISATA KABUPATEN TAKALAR
Profil Kabupaten Takalar
Kabupaten Takalar memrupakan salah satu Kabupaten di Provinsi Sulawesi selatan yang beribukota di Pattalasang ini memiliki luas keseluruhan wilayah 566,51 km yang terbagi menjadi 6 Kecamatan dan berbatasan langsung dengan Kota Makasar dan Kabupaten Gowa di sebelah utara, Laut Flores di sebelah selatan, Selat Makasar di sebelah barat, serta kabupaten Janeponto dan kBupaten Gowa di sebelah timur. Daerah ini dikenal sebagai kabupaten aynag berbasis agraria dan perikanan. Di daerah yang berbasis agraria ini, kapas yang tergolong tanaman musim kemarau bukanlan tanaman yang baru digiatkan , pendapatan petani dari hail panen kapas ini dijual kepada PT Monagro yakni sebuah perusahaan bioteknologi dari Amerika Sserikat yang bermitra dengan dinas perkebunan setempat. Dari sektor pertanian yang mejadi pusat perekonomian masyarakat, hasil-hasil perkebunan tampaknya bukan menjadi andalan yang utama. Subsektor tanaman bahan makanan dan perikanan yang menjadi andalan dengan padi merupakan produk tanaman bahan makanan unggulan, dari luas lahan sawah 16.000 hektar, 73 persen merupakan lahan sawah pengairan dan selebihnya merupakan lahan sawah tadah hujan. Di musim kemarau, lahan saawah tadah hujan dimanfaatkan untuk penanaman palawija dan sayur-sayuran yang diupayakan secara intensifikasi dan diversifikasi.
Kondisi wiayah Takalar yang berbatasan lansung dengan selat dan laut, memungkinkan penduduk di sekitarnya menggantungkan hidup dari menangkap ikan dan perikanan darat melalui usaha tambak dan perairan umum, dengan komoditi utama meliputi: rumput laut, udang, lobster, berbagai jenis ikan, dan telur ikan terbang. Hampir semua komoditas ini sudah diekspor terutama rumput laut, udang, lobster, dan telur ikan terbang dengan ekspor ikan pun sudah dilakukan langsung dari Takalar. Komoditas lain yang juga diekspor adaah kerajinan anyaman.

Gaukang bukan hanya cikal bakal terbentuknya pemukiman dan pusat pemukiman masyarakat di Kabupaten Takalar, tetapi juga merupakan awal dari terbentuknya kepemimpinan dalam masyarakat sebagai satu kesatuan.
Kamis 16 Juli 2009, Balla Lompoa Galesong menjadi saksi peringatan hari ulang tahun (Tammu Taunna) Gaukang Karaeng Galesong yang ke-248. Tradisi yang dilaksanakan secara turun temurun setiap tahun itu dihadiri oleh Wakil Bupati Takalar Drs. H. Andi Makmur A. Sadda, MM, Wakil Ketua DPRD Kab. Takalar, para kepala dinas, Ketua Tim Penggerak PKK Kab. Takalar, Pemangku Adat Karaeng Galesong, para Sesepuh, tokoh adat, dan warga masyarakat setempat.
Peringatan Tammu Taunna ini diawali dengan ritual Appalili, yaitu mengelilingi kampung yang dimulai dari kompleks rumah adat menuju ke Bungung Barania. Arak-arakan ini diiringi oleh rapak gendang khas Makassar serta tari Pa’rappunganta yang menunjukkan empat simbol daerah seperti Makassar, Bugis, Tana Toraja dan Mandar. Hal yang unik dalam ritual Appalili ini adalah tiga gadis kecil yang diusung di dalam keranda serta seekor sapi yang berada di barisan paling depan rombongan.
Bungung Barania adalah sumur tua yang menjadi tempat mandi Karaeng Galesong dan diyakini oleh masyarakat bisa mendatangkan keberanian. Anehnya, lokasi sumur ini sangat dekat dengan laut, namun airnya tidak asin. Air sumur ini diambil oleh pemangku adat dan dibawa ke Balla Lompoa Galesong untuk digunakan mencuci benda-benda pusaka kerajaan.
Rombongan kembali menuju Balla Lompoa Galesong melalui jalan yang berbeda. Sesampai di Balla Lompoa, rombongan mengelilingi Balla Lompoa sebanyak tujuh kali, kemudian sapi yang ikut dalam arak-arakan disembelih di halaman Balla Lompoa.
Asal mula keberadaan Gaukang Karaeng Galesong bermula dari temuan gaib salah seorang papekang (pemancing), pada masa kepemimpinan Karaeng Galesong III, Karaeng Bontomarannu yang diteruskan I Djakkalangi Daeng Magassing.
Suatu ketika, pappekang tersebut menghadap ke salah seorang tokoh masyarakat, Daengta Lowa-Lowa, di Kampung Ujung di sekitar pesisir Pantai Galesong bahwa dirinya telah dua kali diperlihatkan peristiwa gaib saat memancing di tengah laut. Peristiwa yang dialami pappekang tersebut, dua Jumat berturut-turut.
Temuan gaib pappekang itu berupa bunyi-bunyian dari suara khas gendang, royong, pui-pui, lesung, dan berbagai suara lainnya. Suara itu pun terkadang dirasakannya sangat dekat dan adakalanya sayup-sayup.
Tanpa diketahuinya, seiring matahari terbit, dari utara sebuah benda aneh semacam potongan bambu abu-abu tiba-tiba muncul dan kemudian hilang sekejap dari hadapannya.
Pappekang ini juga mengaku kalau bermacam-macam suara gaib yang didengarnya sontak menghilang. Dari laporan inilah, Daengta Lowa-Lowa kemudian mengklaim bahwa peristiwa tersebut kemungkinan rahmat dari Allah S.W.T. yang ditujukan untuk keslamatan Galesong dan masyarakatnya.
Prof. Dr. Aminuddin Sale yang masih merupakan keturunan Karaeng Galesong mengatakan, peristiwa ini harus terus dilestarikan. Tanpa terkecuali, seluruh masyarakat di Kabupaten Takalar.
“Kita semua harus bercermin kepada Jepang. Upaya untuk terus menjaga dan mempelajari sejarah leluhurnya, mereka mampu menguasai separuh dunia ini,” katanya.
Mappainga Karaeng Tompo
Nama Raja Galesong, Mattinroa Ri Bobojangan, sebenarnya bukan nama yang sesungguhnya, tapi gelar. Sebab, kala itu nama asli raja dilarang untuk disebut atau dikenal khalayak. Yang jelas, beliau adalah keluarga dekat dari I Mallombassi Daeng Mattawang Karaeng Bontomangape atau Sultan Hasanuddin
Kamis 16 Juli 2009, Balla Lompoa Galesong menjadi saksi peringatan hari ulang tahun (Tammu Taunna) Gaukang Karaeng Galesong yang ke-248. Tradisi yang dilaksanakan secara turun temurun setiap tahun itu dihadiri oleh Wakil Bupati Takalar Drs. H. Andi Makmur A. Sadda, MM, Wakil Ketua DPRD Kab. Takalar, para kepala dinas, Ketua Tim Penggerak PKK Kab. Takalar, Pemangku Adat Karaeng Galesong, para Sesepuh, tokoh adat, dan warga masyarakat setempat.
Peringatan Tammu Taunna ini diawali dengan ritual Appalili, yaitu mengelilingi kampung yang dimulai dari kompleks rumah adat menuju ke Bungung Barania. Arak-arakan ini diiringi oleh rapak gendang khas Makassar serta tari Pa’rappunganta yang menunjukkan empat simbol daerah seperti Makassar, Bugis, Tana Toraja dan Mandar. Hal yang unik dalam ritual Appalili ini adalah tiga gadis kecil yang diusung di dalam keranda serta seekor sapi yang berada di barisan paling depan rombongan.
Bungung Barania adalah sumur tua yang menjadi tempat mandi Karaeng Galesong dan diyakini oleh masyarakat bisa mendatangkan keberanian. Anehnya, lokasi sumur ini sangat dekat dengan laut, namun airnya tidak asin. Air sumur ini diambil oleh pemangku adat dan dibawa ke Balla Lompoa Galesong untuk digunakan mencuci benda-benda pusaka kerajaan.
Rombongan kembali menuju Balla Lompoa Galesong melalui jalan yang berbeda. Sesampai di Balla Lompoa, rombongan mengelilingi Balla Lompoa sebanyak tujuh kali, kemudian sapi yang ikut dalam arak-arakan disembelih di halaman Balla Lompoa.
Asal mula keberadaan Gaukang Karaeng Galesong bermula dari temuan gaib salah seorang papekang (pemancing), pada masa kepemimpinan Karaeng Galesong III, Karaeng Bontomarannu yang diteruskan I Djakkalangi Daeng Magassing.
Suatu ketika, pappekang tersebut menghadap ke salah seorang tokoh masyarakat, Daengta Lowa-Lowa, di Kampung Ujung di sekitar pesisir Pantai Galesong bahwa dirinya telah dua kali diperlihatkan peristiwa gaib saat memancing di tengah laut. Peristiwa yang dialami pappekang tersebut, dua Jumat berturut-turut.
Temuan gaib pappekang itu berupa bunyi-bunyian dari suara khas gendang, royong, pui-pui, lesung, dan berbagai suara lainnya. Suara itu pun terkadang dirasakannya sangat dekat dan adakalanya sayup-sayup.
Tanpa diketahuinya, seiring matahari terbit, dari utara sebuah benda aneh semacam potongan bambu abu-abu tiba-tiba muncul dan kemudian hilang sekejap dari hadapannya.
Pappekang ini juga mengaku kalau bermacam-macam suara gaib yang didengarnya sontak menghilang. Dari laporan inilah, Daengta Lowa-Lowa kemudian mengklaim bahwa peristiwa tersebut kemungkinan rahmat dari Allah S.W.T. yang ditujukan untuk keslamatan Galesong dan masyarakatnya.
Prof. Dr. Aminuddin Sale yang masih merupakan keturunan Karaeng Galesong mengatakan, peristiwa ini harus terus dilestarikan. Tanpa terkecuali, seluruh masyarakat di Kabupaten Takalar.
“Kita semua harus bercermin kepada Jepang. Upaya untuk terus menjaga dan mempelajari sejarah leluhurnya, mereka mampu menguasai separuh dunia ini,” katanya.
Mappainga Karaeng Tompo
Nama Raja Galesong, Mattinroa Ri Bobojangan, sebenarnya bukan nama yang sesungguhnya, tapi gelar. Sebab, kala itu nama asli raja dilarang untuk disebut atau dikenal khalayak. Yang jelas, beliau adalah keluarga dekat dari I Mallombassi Daeng Mattawang Karaeng Bontomangape atau Sultan Hasanuddin
Pulau Sanrobengi
Sanrobengi adalah pulau kecil yang memiliki potensi sebagai pusat kunjungan karena selain berpasi putih juga dapat dilakukan kegiatan-kegiatan laut seperti berenang, menyelam, berjemur, memancing, membakar ikan segar, dan berbagai kegiatan laut lainnya.
Selain kegiatan laut, pulau Sanrobengi ditunjang oleh sarana pendukung TPI Di Desa Boddia, dan dermaga lainnya.
Sanrobengi adalah pulau kecil yang memiliki potensi sebagai pusat kunjungan karena selain berpasi putih juga dapat dilakukan kegiatan-kegiatan laut seperti berenang, menyelam, berjemur, memancing, membakar ikan segar, dan berbagai kegiatan laut lainnya.
Selain kegiatan laut, pulau Sanrobengi ditunjang oleh sarana pendukung TPI Di Desa Boddia, dan dermaga lainnya.
Benteng Sanrobone
Pembuatan tembok dan dinding benteng Sanrobone dilakukan oleh Dampang Panca Belong (Raja I Kerajaan Sanrobone) atas perintah Raja Gowa dan dikerjakan oleh rakyat secara gotong royong sekitar abad XVI. Benteng Sanrobone terbuat dari batu bata dan terbentuk perahu dengan panjang sekitar 3,7 km.
Benteng tersebut mempunyai 7 pintu benteng yaitu 4 pintu besar searah dengan mata angin dan 3 pintu kecil. Beberapa bukit sejarah diantaranya, Meriam dengan berat sekitar 150 kg, keris pusaka, dan makam Raja Sanrobone (kabbanga) Benteng ini menarik dikunjungi karena bernilai sejarah masa lalu mengenai keberadaan dan perjuangan Kerajaan Sanrobone di Sulawesi Selatan.
Pembuatan tembok dan dinding benteng Sanrobone dilakukan oleh Dampang Panca Belong (Raja I Kerajaan Sanrobone) atas perintah Raja Gowa dan dikerjakan oleh rakyat secara gotong royong sekitar abad XVI. Benteng Sanrobone terbuat dari batu bata dan terbentuk perahu dengan panjang sekitar 3,7 km.
Benteng tersebut mempunyai 7 pintu benteng yaitu 4 pintu besar searah dengan mata angin dan 3 pintu kecil. Beberapa bukit sejarah diantaranya, Meriam dengan berat sekitar 150 kg, keris pusaka, dan makam Raja Sanrobone (kabbanga) Benteng ini menarik dikunjungi karena bernilai sejarah masa lalu mengenai keberadaan dan perjuangan Kerajaan Sanrobone di Sulawesi Selatan.
Terumbu Karang Pulau Tanakeke
Kepulauan Tanakeke terdiri atas Pulau Tanakeke, Bauluang, Satanga, dan Dayang-dayangan menyimpan perpaduan objek wisata alam yaitu agrowisata, berburu/atraksi menangkap ikan, pantai dan penyelam.
Pulau-pulau tersebut menyimpan keanekaragaman hayati yang unik, yaitu ikan Baronang, Biawasa, Kepiting Dato, dengan ukuran cangkangnya mencapai 25 cm, hutan bakau, padang lamun yang tumbuh di pasir putih, cocok untuk permandian alam jemur di pasir putih sambil menikmati hidangan khas bakar ikan laut, dan terumbu karangnya yang asri, cocok untuk penyelam.
Kepulauan Tanakeke terdiri atas Pulau Tanakeke, Bauluang, Satanga, dan Dayang-dayangan menyimpan perpaduan objek wisata alam yaitu agrowisata, berburu/atraksi menangkap ikan, pantai dan penyelam.
Pulau-pulau tersebut menyimpan keanekaragaman hayati yang unik, yaitu ikan Baronang, Biawasa, Kepiting Dato, dengan ukuran cangkangnya mencapai 25 cm, hutan bakau, padang lamun yang tumbuh di pasir putih, cocok untuk permandian alam jemur di pasir putih sambil menikmati hidangan khas bakar ikan laut, dan terumbu karangnya yang asri, cocok untuk penyelam.

Pantai Puntondo adalah salah satu pantai yang sangat indah di Kabupaten Takalar dengan berbagai jenis keindahan batu karang di pinggir pantai.
Aroma sejuk nan segar akan menyambangi, saat kali pertama kita memasukki kawasan ’Butta Panrannuangku’ Takalar. Beragam obyek wisata yang mengugah hati juga akan menahan kita untuk berlama-lama dikawasan ini. Selain pesona alam, Takalar juga terkenal dengan ragam pesona budaya yang hingga kini tetap terpelihara dengan baik. Pesona alam dan keberadaan Takalar sebagai posisi lintasan transportasi wisata antar Makassar, Bira (Bulukumba) dan selayar, menjadikan kawasan ini banyak dikunjungi wisatawa, termasuk wisatawan loka. Guna mewujudnya kawasan ini sebagai daerah tujuan wisata, aneka obyek wisata dan atraksi budaya menyenangkan dapat Anda telusuri di kawasan yang terkenal dengan masyarakatnya yang berbudaya dan penghasil jagung terbesar di Sul-Sel. Upacara Maadu Lompoa Cikoang
Menyebut Kabupaten Takalar, orang langsung tertujuh pada Acara Maudu Lompoa. Yang merupakan kegiatan keagamaan yang didalamnya ada perpaduan unsur atraksi budaya dan ritual-ritual dari masyarakat Cikoang, yang bermukim diseputaran Pantai. Kegiatan ini digelar setiap tahun bulan Rabiul Awal, berdasarkan kalender Hijriah, yang tujuannya dalam rangka memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Ritual didalamnya juga syarat dengan nilai-nilai budaya yang terus dikembangkan dan dilestarikan turun-temurung. Untuk sampai ke kawasan ini cukup ditempuh jarak 15 Km dari kota Takalar, atau 55 Km dari kota Makassar. Dan Anda juga dapat melihat secara langsung atraksi menghias perahu yang dipenuhi hiasan telur, bakul anyaman serta berbagai asesoris lainnya, untuk selanjutnya diarak dengan perahu lain ditepian muara sungai Cikoang. Suasana akan lebih semarak saat atraksi kesenian dan perebutan telur mulai digelar. Ratusan perahu yang dihiasi telur akan diperebutkan masyarakat dan pengunjung yang hadir. Dan konon menurut kepercayaan masyarakat seputar sungai Cikoang, setiap orang yang memperoleh aneka jenis makanan yang diperebutkan dari dalam perahu akan memperoleh keberkatan yang berlimpah dalam menjalani kehidupannya. Pantai Lamangkia
` Pantai Lamangkia atau pantai Topejawa ini merupan tempat permandian alamin dengan desiran ombak, hembusan angin laut dan hamparan pasir lembutnya akan menyambut kedatangan Anda. Pantai ini terletak di desa Topejawa kecamatan Mangarabombang, yang jarak ada sekitar 14 Km dari kota Takalar, atau 54 Km dari Makassar. Berbagai sarana dan prasarana wisata tersedia di kawasan ini, dan itu tentu saja akan memudahkan Anda beserta keluarga menikmati kesejukan udara pantai. Jejeran Baruga dapat Anda sewa dengan harga terjangkau, Balai-balai sebagai tempat menikmati hamparan laut sehabis mandi, perahu tradisional yang menjajakan ikan laut yang asik untuk dibakar, lalu disantai bersama ditemani gemuru angin pantai. Wow...benar-benar liburan yang menyenangkan. Ditempat ini, Anda beserta keluarga juga dapat beraktifitas bersama seperti berjemur, berenang, olah raga pantai, voli pantai, memancing dll. Dengan membayar iuaran masuk sebesar Rp 2000 Anda akan menikmati kesejukan pantai Lamankia tanpa batas. Barugayya
Kabupaten Takalar memiliki obyek wisata perburuan, yang tidak terdapat di kota-kota lain di Indonesia. Obyek wisata berburu rusa ini dapat ditempuk melalu perjalanan darat dari Takalar selama 50-60 menit. Kawasan ini menjadi sebuah resort yang sangat indah dan masih sangat alami, dimana pegunungan, pebukitan, danau maupun hutan membuat obyek ini sangat tepat dijadikan tempat untuk menguji ketangkasan hoby berburuh Anda. Namun mungkin saat ini, wisata Barugaya belum dapat digunakan, karena proses pengembangan dan pembudidayaan area. Tapi Anda tak perlu berkecil hati karena kawasan ini juga bisa digunakan sebagai tempat wisata lintas alam (outboun), mancing, berkuda, panjat tebing dan berkema. Anda tinggal memilih wisata seperti apa yang Anda ingin lakukan. Di dalam area Barugayya, juga disediakan tempat peristirahatan bagi para pengunjung, tentu saja dengan harga yang relatif terjangkau dompet Anda. Telaga Ko'mara
Ko’mara merupakan sebuah kawasan pegunungan, alam yang asri dan sejuk dengan sungai-sungai yang mengalir dari celah pegunungan sehingga menghasilkan air terjung yang bertingkat-tingkat. Telaga yang mengeluarkan kesegaran dan kesejuk air pegunungan alami ini, jarak tempuhnya sekitar 20 Km dari kota Takalar. Sungguh suatu pemandangan yang cantik nan elok. Bagi Anda yang menyukai petualan di kawasan alam, disini tempatnya. Rangkaian ajang seperti tracking, panjat tebing dan berkuda dapat dilakukan. Untuk masuk ke kawasan ini anda tidak dipungut biaya sepeser pun. Dan alangk baiknya jika Anda dan keluarga akan berkunjung ke telaga Ko’mara ini, sebaiknya Anda dan keluarga membawa bekal, karena diseputaran telaga tidak ditemui satu pun penjual makanan dan minuman. Monumen Lapris,
Monumen yang dibangun untuk mengenang jasa para pahlawan yang tank pernah mengenal kata menyerah ini, menjadi satu daya wisata menarik untuk ditelusuri. Monumen yang berada di sebuah bukit Desa Bulukunyi, penempatannya lain dari monumen biasanya. Berada disebuah bukit dengan pesona alam dan hamparan lereng pegunungan yang tertata rapi, seakan membawa kita serasa berada dihamparan perkebunan teh yang indah. Suasana layaknya monumen yang serba menakutkan tak diterlihat di kawasan ini. Di Monumen yang jarak tempunya 12 Km dari kota Takalar dan 50 Km dari Makassar, Anda akan dapat melihat 19 Prasasti dari kelasykaran Sulawesi Selatan dan Tenggara, yang menjadi peninggalan Lascar Pemberontak Rakyat Sulawesi (LAPRIS) pata tahun 1940-an, dibawa kepemimpinan Ranggong Dg Romo sebagai panglima yang sudah melakukan pertempuran sebanyak 52 kalidemi mengusir penjajah dari bumi Sulawesi Selatan.

Aroma sejuk nan segar akan menyambangi, saat kali pertama kita memasukki kawasan ’Butta Panrannuangku’ Takalar. Beragam obyek wisata yang mengugah hati juga akan menahan kita untuk berlama-lama dikawasan ini. Selain pesona alam, Takalar juga terkenal dengan ragam pesona budaya yang hingga kini tetap terpelihara dengan baik. Pesona alam dan keberadaan Takalar sebagai posisi lintasan transportasi wisata antar Makassar, Bira (Bulukumba) dan selayar, menjadikan kawasan ini banyak dikunjungi wisatawa, termasuk wisatawan loka. Guna mewujudnya kawasan ini sebagai daerah tujuan wisata, aneka obyek wisata dan atraksi budaya menyenangkan dapat Anda telusuri di kawasan yang terkenal dengan masyarakatnya yang berbudaya dan penghasil jagung terbesar di Sul-Sel. Upacara Maadu Lompoa Cikoang
Wisata Industri
Kabupaten Takalar memiliki industri strategis untuk pengembangan daerah dan penanaman investasi yang menjanjikan. Industri tersebut adalah pabrik gula Takalar, pabrik pengolahan rumput laut, shirimp hatchery and ikan bandeng.
Pabrik gula takalar merupakan industri hilir yang mengelola gula mulai dari bentuk mentah yaitu penanaman tebu hingga siap di komsumsi dalam bentuk gula. Gula tersebut dipasarkan hingga ke bagian timur Indonesia. Sedangkan pabrik pengolahan rumput laut memperoleh bahan baku antara lain dari kepulauan Tanakeke, untuk selanjutnya diolah dengan mencuci, memasak memotong, mengeringkan, dan menggiling, serta mengemasnya untuk ekspor. Industri tersebut menarik dikunjungi untuk pengetahuan, penelitian, atau studi perbandingan, baik oleh kalangan akademisi, instansi, ataupun umum.
Kabupaten Takalar memiliki industri strategis untuk pengembangan daerah dan penanaman investasi yang menjanjikan. Industri tersebut adalah pabrik gula Takalar, pabrik pengolahan rumput laut, shirimp hatchery and ikan bandeng.
Pabrik gula takalar merupakan industri hilir yang mengelola gula mulai dari bentuk mentah yaitu penanaman tebu hingga siap di komsumsi dalam bentuk gula. Gula tersebut dipasarkan hingga ke bagian timur Indonesia. Sedangkan pabrik pengolahan rumput laut memperoleh bahan baku antara lain dari kepulauan Tanakeke, untuk selanjutnya diolah dengan mencuci, memasak memotong, mengeringkan, dan menggiling, serta mengemasnya untuk ekspor. Industri tersebut menarik dikunjungi untuk pengetahuan, penelitian, atau studi perbandingan, baik oleh kalangan akademisi, instansi, ataupun umum.
Oleh-Oleh
Mengunjungi Takalar tak lengkap rasanya jika tak membawa oleh-oleh khas tanah ’Butta Panrannuangku’. Takalar selain dikenal penghasil jagung terbesar di Sul-Sel, juga dikenal dengan masyarakatnya yang ahli dalam pembuatan Guci dan aneka Anyaman khas Takalar. Bahkan Anyaman dan guci yang dibuat telah menembus pasar Nusantara dan Internasional. Diantaranya anyaman Serat Lontara, Songko Guru, Topi, Tas, Kipas, Bakul, dll yang didesainsecara khusus oleh pengrajing. Juga ada Geraba yang berbentuk guci, asbak, vas bungan, hiasan dinding hingga kursi teras, dapat Anda bawa pulang sebagai buah tangan. Tak lupa pula berbagai guci mungil yang dapat Anda jadikan koleksi pribadi. Tempat kerajinan ini berada di kecamatan Galesong Selatan dan kecamatan Pattalassang.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar